Mau Uang Gratis. Klik disini

Kamis, 02 Februari 2012

Lebih Dekat Dengan Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam)

Share
Lebih Dekat Dengan Rasulullah (Shalallahu 'alaihi wassalam)
Penulis: Syaikh Muhammad Jamil Zainu
Sirah_Nabawiyyah, 06 - Agustus - 2003, 06:03:57
Cap Kenabian Beliau
1. Dari Jabir bin Samrah Radhiyallahu 'anhu berkata: "Saya pernah melihat cap kenabian diantara kedua bahu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , (cap itu berbentuk) gondok merah seperti telur burung dara yang menyerupai warna jasadnya." (HR. Muslim)

2. Dari Abdullah bin Sarjas radhiyallahu 'anhu berkata: "Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, saya (juga) telah menemuinya, makan makanannya, minum minumannya, dan saya pernah melihat cap kenabian di punuk pundaknya sebelah kiri, di atas cap kenabian tersebut terkumpul tahi lalat semisal kutil." (HR. Muslim)

3. Dari Al Ja'du bin Abdur Rahman berkata: "Saya mendengar As Sa'ib bin Yasid berkata: "Bibi saya pergi membawa saya ke Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam , kemudian berkata: Wahai Rasulullah , sesungguhnya anak keponakan saya ini kurang sehat. Maka beliau mengusap kepala saya dan mendoakan keberkahan buat saya. Lalu beliau berwudhu, dan saya meminum air wudhu beliau. Kemudian saya berdiri di belakang punggungnya. Saya melihat cap kenabian di antara kedua bahunya seperti telur burung puyuh." (Mutafaq 'Alaih)

Keharuman aroma badan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

1. Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: "Bahwasanya RasulullahShallallahu 'Alaihi wa Sallam mempunyai warna kulit yang bersih, keringatnya seperti mutiara, apabila berjalan beliau mendorongkan badannya ke depan. Belum pernah saya menyentuh sutra bergambar yang lebih lembut dari tangan RasulullahShallallahu 'Alaihi wa Sallam . Dan saya belum pernah mencium minyak wangi dari Misk maupun Ambar yang lebih harum dari baunya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ." (Mutafaq 'Alaih)

2. Dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi pernah mengunjungi kami, kemudian beliau tidur siang sehingga berkeringat. Datanglah ibu saya dengan membawa sebuah botol. Kemudian beliau mengalirkan keringat beliau ke botol tersebut, sehingga Nabi terbangun dan bertanya: Wahai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan? Ibu saya menjawab: Keringatmu ini akan kami jadikan sebagai parfum. Karena dia merupakan parfum yang paling wangi." (HR. Muslim)

3. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dikenal dengan keharuman bau bila bersua. (Disahihkan oleh Al-Albani di Shahih Al Jami')

4. Dari Anas radhiyallahu 'anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi waSallam tidak pernah menolak minyak wangi. (HR. Bukhari)

5. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: "Sebaik-baik minyak wangi adalah Misk." (HR. Muslim)

(Dinukil dari: Mengenl Pribadi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Penulis: Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Alih bahasa: Mukhlish Zuhdi. Penerbit Yayasan Al-Madinah, Shafar 1419 H, hal. 22-23)

Kebenaran dan Kepastian adanya Adzab Kubur (I)

Share
Penulis: Troid Author (http://www.troid.org/articles/manhaj/innovation/hizbuttahreer/theg
Manhaj, 20 - Juli - 2003, 02:53:07
Adzab Kubur adalah Haq (Bantahan terhadap Hizbut Tahrir dan kelompok lainnya yang mengingkari adzab Kubur)

Sejarah Masa Lalu
Diantara firqah-firqah yang mengingkari iman tentang adanya adzab kubur adalah Al Khawarij dan Al Mu'tazilah [1]. Al Mu'tazilah mengatakan "bahwa ulama kami mengingkari adzab kubur dan siksaan-siksaan yang ada didalamnya" [2]. Hal ini disebabkan karena mereka berbuat bid'ah dalam masalah syari'ah, bahwa hanya hadits yang mutawatir [3] saja yang dapat naik menjadi ilmu, sebaliknya ahadits yang ahad [4] tidak bisa. Dan pernyataan mereka, bahwa ahadits ahad tidak bisa naik menjadi ilmu artinya ahadits itu - menurut pendapat mereka yang keliru - tidak terbebas dari kemungkinan adanya kekeliruan ataupun kesalahan.

Berdasarkan pada prinsip bid'ah ini, mereka mengingkari hadits yang menegaskan bahwa adzab kubur itu adalah haq (benar adanya) dan akan terjadi pada orang-orang kafir dan orang-orang dari umat ini yang mempunyai dosa - semoga Allah melindungi kita dari pendapat adzab kubur - sebab bagi mereka hadits ini adalah termasuk pada kategori ahad.

Maka prinsip sesat ini menyebabkan mereka mengingkari iman terhadap adzab kubur dan tidak memeganginya sebagai bagian dari aqidah, yang pengingkaran mereka itu merupakan lawan dari apa yang As Salafus Shalih pegangi dalam aqidah dan juga yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang mengikutinya.

Tragedi Pada Masa Kini
Pada bebarapa tahun terakhir, beberapa du'at yang tidak bersalah telah terjatuh di dalam prinsip bid'ah ini - bahwa hadits ahad yang shahih tidak dapat naik menjadi ilmu, sehingga tidak bisa dijadikan dasar dalam permasalahan aqidah - sehingga sebagian besar dari mereka masuk ke dalam syubhat dan menolak bahwa adzab kubur adalah benar-benar akan terjadi, padahal ini adalah merupakan aqidah yang dipegang sangat erat oleh Salaf kita.

Hasilnya adalah terjadinya penyelisihan - dan ini adalah merupakan buah yang busuk - yang muncul lagi di kepala-kepala para pemuda seperti yang terjadi pada generasi sebelumnya di umat ini, yang melingkar bagaikan cincin di jari.

Imam Abul Muzhaffar As Sam'ani [5] - rahimahullah - berkata:"Jika riwayat itu shahih bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, telah diriwayatkan dari rawi yang tsiqah dan para ulama, yang mereka meriwayatkannya dengan bentuk yang tersambung, mulai dari orang-orang sebelum mereka sampai pada generasi salaf, yang kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan hal ini diterima oleh para ulama, maka hadits ini wajib menjadi ilmu, dimana hadits ini menunjukkan ilmu.

Ini adalah pernyataaan dari sebagian besar ahlul hadits, dan mereka-mereka yang mempunyai ketelitian, dan mereka-mereka yang bekerja untuk menjaga sunnah. Tapi perkataan-perkataan mereka (yang menolak hadits Ahad), bahwa riwayat ahad tidak bisa naik menjadi ilmu, dan riwayat yang dapat naik menjadi ilmu itu harus dalam bentuk mutawatir, maka hal ini adalah merupakan bid'ahnya Al Qdariyah dan Al Mu'tazilah.

Mereka mempunyai maksud tertentu di balik prinsipnya itu, yaitu menolak riwayat. Dan prinsip mereka ini pun telah diambil, tanpa adanya pemahaman, oleh beberapa ulama fiqh, yang mereka itu tidak mempunyai langkah yang tegas didalam menyikapi ilmu, tidak pula menyadari maksud dari perkataan ini." [6]

Harapan Yang Diinginkan
Oleh karena itu, semoga artikel ini akan berusaha untuk mengklarifikasi - dengan idzin Allah - bahwa beriman terhadap adzab kubur adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan hal ini adalah benar-benar merupakan bagian dari aqidah dari salaf kita yang shalih, yang (seperti telah dijelaskan sebelumnya) hanya diingkari oleh ahlul bid'ah. Dan dengan artikel ini, muncul harapan agar siapa saja yang telah keluar dari manhaj Salafus Shalih - yang merupakan manhajnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah - akan mengembalikan pendirian mereka berdasarkan pada terangnya dalil yang ditunjukkan, berharap agar mereka kembali kepada al haq. Sebenarnya Al Haq itu dihargai oleh orang-orang yang beriman, dan kembali keopadanya merupakan keutamaan.

Sebaliknya berdiri di atas kesesatan dan kerusakan adalah terhina [7]. Ingatlah bahwa apa-apa yang dipilih dan yang benar adalah apa yang Salafus shalih berada di atasnya, maka hal itu merupakan al haq".[8]

Dalil Dari Sunnah yang Murni
Disini, dalam rangka mempersingkat, maka tidak akan disertakan dalil-dalil dari Al Qur'an dan tafsirnya dari kalangan shahabat dan tabi'in, namun didalamnya hanya terdapat dalil-dalil dari As Sunnah (Al Hadits) yang murni, kemudian atsar Salaf kita yang shalih dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang mengikutinya.

Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata : Seorang wanita dari Yahudi datang padanya dan menjelaskan tentang adzab kubur, lalu aku katakan padanya : semoga Allah melindungimu dari hal itu. Lalu dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau (Rasulullah) berkata :"Ya, adzab kubur itu memang ada". 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata :"Sejak itu, aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali beliau selalu meminta perlindungan (kepada Allah) dari adzab kubur dalam setiap shalatnya. (HR. Al Bukhari no.1372)


Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata :"Pada suatu waktu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berjalan melewati dua kuburan dan bersabda 'Kedua orang dalam kuburan ini sedang disiksa, padahal bukan karena suatu hal yang besar, salah satunya disiksa karena selalu berbuat namimah (mengadu domba), sedangkan yang satunya lagi karena dia tidak memelihara dirinya dari terkotori oleh air kencingnya sendiri'. Ibnu 'Abbas berkata : kemudian beliau mengambil dua pelepah daun yang masih hijau dan membaginya menjadi dua kemudian masing-masing diletakkan di atas dua kuburan itu, kemudian beliau bersabda : "Semoga adzab mereka akan diringankan sampai dua potongan pelepah ini mengering" (HR Al Bukhari no.1378)

Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya orang yang mati itu akan di adzab di dalam kuburnya, dan binatang-binatang mendengarnya" (Shahih, diriwayatkan oleh Ath Thabarani, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.1377)

Dari Hani, maula 'Utsman, meriwayatkan : Ketika 'Utsman berdiri di samping kuburan, sampai-sampai beliau mencucurkan air mata sehingga jenggotnya pun basah karena air matanya. Kemudian ada yang berkata padanya: Surga dan neraka telah dijelaskan padamu, dan kau tidak bercucuran air mata, kecuali air mata itu mencapai jenggotmu. Kemudian beliau berkata : Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :"Sesungguhnya kuburan itu merupakan tempat perhentian pertama menuju hari akhir. Maka siapa saja yang selamat didalamnya, maka apa yang akan datang setelahnya akan lebih mudah daripadanya. Dan jika dia tidak selamat didalamnya, maka apa yang akan datang setelahnya akan lebih sulit" (Hasan, diriwayatkan oleh At Tirmidzi no.2424, Ibnu Majah no4267, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Takhrij Al Misykat no.132)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Ketika salah seorang dari kamu hendak menyelesaikan tasyahud, maka hendaklah dia meminta perlindungan dari empat hal, yaitu dari adzab di neraka, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari jahatnya fitnah Masihud Dajal" (HR. Muslim 2/93, Abu Dawud no.983, dan selainnya)

Dari Ummu Khalid bintu Khalid Radhiyallahu 'anha berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Mohonlah perlindungan dari adzab kubur, seba adzab kubur itu haq" (HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.1444)

Atsar dari Salaful Ummah
Renungkanlah sekarang, wahai para pembaca yang budiman, atsar dari salaful ummah yang respek dalam mengimani akan adanya adzab kubur.

Imam Sufyan Ibnu 'Uyainah (wafat 197 H) rahimahullah berkata:"As Sunnah itu ada sepuluh. Siapa saja yang menerimanya maka ia telah melengkapi Sunnah, dan siapa saja yang menolaknya maka ia telah menolak Sunnah. (Yaitu) Iman terhadap Al Qadar, mendahulukan Abu Bakar dan Umar, adanya al haudh (danau) di surga, Asy Syafa'ah, adanya ash shirath (jembatan) di atas neraka, iman itu adalah perkataan dan amalan, Al Qur'an itu adalah kalamullah, adzab kubur, dibangkitkan pada hari akhir, dan tidak bersaksi pada setiap muslim itu sudah pasti berada di surga atau neraka." [9]

Imam Muhammad Ibnu Idris Asy Syafi'i (wafat 204 H) rahimahullah berkata:"Sesungguhnya Al Qadar yang baik atau yang jelek adalah berasal dari putusan Allah 'Azza wa Jalla, sesunggunya adzab kubur itu adalah suatu yang pasti akan terjadi, kebangkitan itu adalah suatu hal yang pasti, pertanggungjawaban (akan amalan di dunia) adalah suatu yang haq, surga dan neraka itu adalah haq, apa-apa yang diriwayatkan dalam sunnah dan dijelaskan oleh para ulama, dan para pengikutnya di wilayah muslimin adalah haq". [10]

Imam Ahmad Ibnu Hanbal (wafat 241 H) rahimahullah berkata:"Diantara pokok-pokok sunnah, yang jika salah seorang meninggalkan salah satunya, tidak menerimanya, tidak mengimaninya, maka dia bukan termasuk dari golongannya (yang mengikuti sunnah), yaitu iman terhadap adzab kubur" [11]. Beliau juga berkata:"Adzab kubur itu adalah hal yang pasti adanya, hamba akan ditanyai tentang agamanya dan Tuhannya, Munkar wa Nakir serta surga dan neraka juga merupakan hal yang benar adanya". [12]

Imam Abu Dawud As Sijistani (wafat 275 H) rahimahullah berkata:"Bab pertanyaan di dalam kubur dan adzab kubur". [13]
Imam Ibnu Qutaibah (wafat 278 H) rahimahullah berkata:"Ahlul Hadits telah bersepakat dalam beberapa hal, (yaitu) bila Allah menghendaki sesuatu maka akan terjadi dan bila Allah tidak mengehendakinya maka tidak akan terjadi, Dia adalah pencipta kebaikan dan kejelekan, Al Qur'an itu adalah kalamullah bukan makhluq, Allah akan dapat dilihat pada hari akhir nanti, mengutamakan Abu Bakar dan 'Umar, mengimani aka adanya adzab kubur. Mereka tidak berselisih dalam hal-hal yang fundamental ini. Barang siapa yang menyelisihi mereka dalam hal ini maka mereka akan tertolak, dibenci dan dinyatakan sebagai mubtadi', dan dia harus dihukum". [14]

Imam Abu Ja'far Ath Thahawi (wafat 321 H) rahimahullah berkata:"Ini adalah merupakan penjelasan tentang Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah yang dipegang oleh ulama dien ini, yaitu Abu Hanifah Nu'man Ibnu Tsabit Al Kufi, Abu Yusuf Ya'qub Ibnu Ibrahim dan Abu 'Abdullah Muhammad Ibnul Hasan Asy Syaibani, semoga Allah meridhoi mereka semua, dan aqidah yang dipegangi dalam hal yang fundamental dari dien dan aqidah mereka terhadap Rabbul 'Alamin, (sampai beliau berkata) kami beriman kepada Malakul Maut yang ditugaskan untuk mencabut nyawa setiap makhluq di dunia, dan terhadap adzab kubur yang akan menimpa siapa saja yang berhak untuk mendapatkannya". [15]

Imam Abul Hasan Al Asy'ari (wafat 324 H) rahimahullah berkata:"Al Mu'tazilah mengingkari adanya adzab kubur. Padahal telah datang riwayat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari banyak jalan, dan dari riwayat dari para shahabatnya radhiyallahu 'anhum. Tidak satu pun ternukil adanya riwayat dari salah seorang mereka yang mengingkari atau menafi'kannya, hal ini merupakan ijma' dari para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam" [16]. Beliau juga berkata:"Terdapat ijma' bahwa adzab kubur itu adalah haq, dan setiap orang akan diuji dan ditanyai di dalam kuburnya. Semoga Allah menetapkan kita di atas apa-apa yang Dia cintai". [17]

Al Imam Al Ajurri (wafat 360 H) berkata:"bab Tashdiq dan iman terhadap adzab kubur". Di dalamnya beliau membawakan banyak hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dan bab ini diakhiri dengan perkataannya:"Tidaklah kondisi pada siapa saja yang mengingkari hadits-hadits ini, kecuali mereka itu telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh dan kerugian yang amat besar". [18]

Imam Ibnu Abi Hatim (wafat 327 H) rahimahullah berkata:"Jalan yang kami pilih adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para shahabatnya, At Tabi'in dan semuanya yang mengikuti mereka dalam hal kebaikan, bersamaan dengan hal itu adalah tidak menghiraukan pada perkara-perkara bid'ah, memegang erat jalannya ahlul atsar, seperti Abu 'Abdullah Ahmad Ibnu Hanbal, Ishaq Ibnu Ibrahim, Abu 'Ubaid Al Qasim Ibnu Salam dan Asy Syafi'i, memegang erat Al Kitab dan As Sunnah dengan berdasarkan pada jalannya para imam yang mengikuti atsar salaf, mengambil apa-apa yang diambil oleh Ahlus Sunnah yang berada di setiap kota, (sampai pada perkataannya) Iman itu adakalanya naik dan adakalanya turun, dan kami beriman pada adzab kubur". [19]

Imam Al Barbahari (wafat 329 H) rahimahullah berkata:"Iman terhadap adzab kubur dan Munkar wa Nakir." [20]

Imam Al Isma'ili (wafat 371 H) berkata:"Ketahuilah, semoga Allah mengampuni kita dan kalian, bahwa jalannya ahlul hadits, ahlus sunnah wal jama'ah adalah beriman pada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Nabi-nabi-Nya, menerima apa-apa yang ada dalam kitabullah dan apa-apa yang shahih yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, (sampai pada perkataannya) Adzab kubur adalah merupakan hal yang benar adanya". [21]

Imam Al Qairawani (wafat 386 H) rahimahullah berkata:"bab apa-apa yang diriwayatkan dalam As Sunnah tentang iaqidah yang dipegang oleh hati terhadap hal-hal yang wajib dalam dien. Dari hal ini bahwa iman itu berada dalam hati, dan melafadzkannya denga sepenuh hati bahwa Allah itu adalah satu-satu-Nya yang berhaq untuk disembah, tidak ada satu pun yang berhaq untuk diesembah kecuali Dia, (sampai pada perkataannya) dab adzab kubur itu adalah suatu ha l yang pasti, dan orang-orang yang beriman akan diuji di dalam kuburnya". [22]

Imam Ibnu Abi Zamnin (wafat 399 H) rahimahullah berkata:"Ahlus Sunnah beriman terhadap adzab kubur, semoga Allah melindungi kita dan kalian dari hal ini." [23]
Imam Al Lalika'i (wafat 418 H) rahimahullah berkata:"bab riwayat-riwayat dari apa-apa yang dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa setiap muslim akan direndahkan dikuburannya, mereka akan ditanyai oleh Munkar wa Nakir, dan bahwa adzab kubur itu adalah pasti dan iman terhadap hal ini adalah wajib". [24]
Imam Al Baihaqi (wafat 458 H) rahimahullah berkata:"bab Iman terhadap adzab kubur". [25]

Catatan Kaki: [1]. Seperti yang dinukilkan oleh Abul Hasan Al Asy'ari dalam Al Maqalatul Islamiyyin hal.430
[2]. Fiqhul Ushulil Khomsiyyah hal.733 dan Fadlul I'tizal hal.202 karya Qadhi Abdul Jabbar Al Mu'tazili. Apa yang mereka ingkari adalah dalam mengimani, atau beraqidah dalam apa-apa yang dibawakan oleh riwayat, bukan mengingkari akan eksistensi hadits tentang adzab kubur, seperti kesalahan yang sering dijelaskan.
[3]. Syaikh Mahmud Ath Thahan mengatakan dalam Taysir Musthalahil Hadits (hal.20-21) tentang pengertian mutawatir:"Pada dasarnya, apa-apa yang telah diriwayatkan oleh banyak rawi, maka hal ini tidak akan memungkinkan padanya bahwa mereka itu berdusta". Dan syarat-syarat dari mutawatir itu adalah :
1. Bahwa hadits ini harus diriwayatkan oleh jumlah rawi yang banyak, dan para ulama telah berbeda pendapat tentang batasan jumlah yang diminta.
2. Bahwa jumlah ini harus ditemukan pada setiap tingkatan sanadnya.
3. Bahwa tidak mungkin mereka bersama-sama berada diatas kedustaan.
(buka juga Nuzhatun Nadhr Fi Taudihi Nukhbatil Fikr (hal.57) oleh Al Hafidh Ibnu Hajar, dan Tadribur Rawi (2/177) oleh As Suyuthi.
[4]. Ibnu Hajar berkata dalam Nuzhatun Nadhr (hal.71) tentang pengertian hadits ahad:"Hadits yang tidak memenuhi syarat dari mutawatir". Dan khabarul ahad ini terdapat pada mayoritas hadits, baik itu dalam shahih Bukhari maupun Muslim, dan selainnya.
[5]. Dia adalah Abul Mudhaffar As Sam'ani, ulama ahli hadits dan ushul. Beliau wafat pada tahun 489 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.
[6]. Saunul Mantaq wal Kalam (hal.160) oleh As Suyuthi, menukil dari kitab Al Inshar Ahlil Hadits karya As Sam'ani.
[7]. Iqamatul Burhan (hal.32). oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiri rahimahullah.
[8]. Al Adzkar (hal.32) oleh Imam An Nawawi.
[9] Riwayat al-Bukhaari (no. 1372)
[10] Riwayat al-Bukhari (no. 1378)
[11] Sahih : Riwayat at-Tabrani (3/78/2), dan disahihkan oleh al-Albaani dalam shohihnya as-Sahihah (no. 1377).
[12] Hasan: Riawayat at-Tirmidzi (no. 2424), dan Ibn Maajah (no. 4267), dan telah disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrijul-Misykat (no. 132).
[13] Riwayat Muslim (2/93), Abu Dawud (no. 983), dan lainnya dari Abu Hurairah (radiyallaahu ’anhu).
[14] Riwayat at-Tabrani dalam al-Kabir dari Umm Khaalid Bintu Khaalid Ibn Sa’id Ibnul-’As (radiyallaahu ’anhaa), disahihkan oleh al-Albani dalam as-Sahihah (no. 1444).
[15]. Syarh Ushulul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (no.312) oleh Al Lalika'i.
[16]. Al Manaqibusy Syafi'i 1/45.
[17]. Ushulus Sunnah (n0.3) oleh Imam Ahmad.
[18]. Risalatus Sunnah (hal 72) oleh Imam Ahmad.
[19]. Kitabus Sunnah (hal.900) dalam Sunan Abu Dawud.
[20]. Ta'wil Mukhtaliful Hadits (hal.1.
[21]. 'Aqidah Ath Thahwawiyah (no.79-80).
[22]. Al Ibanah 'An Ushulid Diyanah (hal.201).
[23]. Risalah ila Ahlits Tsaghr (hal.279) oleh Abul Hasan Al Asy'ari.
[24]. Asy Syari'ah (hal.358-364) oleh Al Ajurri.
[25]. Ashlus Sunnah wa I'tiqad Dien (no.14).
(Bersambung ke Kebenaran dan Kepastian adanya Adzab Kubur vol II)
Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=104


Kebenaran dan Kepastian adanya Adzab Kubur

Share
Kebenaran dan Kepastian adanya Adzab Kubur (II)


Penulis: Troid Author (http://www.troid.org/articles/manhaj/innovation/hizbuttahreer/theg
Manhaj, 20 - Juli - 2003, 03:07:47
Adzab Kubur adalah Haq (Bantahan terhadap Hizbut Tahrir dan kelompok lainnya yang mengingkari adzab Kubur)
Lanjutan dari vol. I...

Pengertian Iman
Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalani (wafat 852 H) rahimahullah berkata:"Iman secara bahasa berarti tashdiq (pembenaran akan suatu yang benar), sedangkan secara syar'i, iman itu berati tashdiq terhadap apa-apa yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari Tuhannya, dan hal ini telah disepakati. Kemudian muncullah perbedaan pendapat. Apakah iman itu memerlukan suatu syarat diatasnya, seperti pernyataan iman pada lisan, sebagaimana iman itu ada dalam hati, atau melakukan amalan di atas apa-apa yang telah diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang untuk dilakukan, (sampai pada perkataannya) maka Salaf mengatakan bahwa iman itu adalah aqidah dalam hati, dinyatakan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, maksudnya adalah amalan itu merupakan satu syarat sebagai pelengkap. Maka dari sini muncul perkataan dari As Salaf, bahwa iman itu bisa naik dan bisa turun, sebagaimana akan dijelaskan.

Al Murji'ah mengatakan bahwa iman itu hanyalah berupa pernyataan dari lisan saja. Dan Al Mu'tazilah mengatakan bahwa iman itu adalah amalan, pernyataan dan aqidah. Perbedaan antara Al Mu'tazilah dengan As salaf adalah, pertama, Al Mu'tazilah menjadikan amalan sebagai syarat pembenar dari iman, sebaliknya As Salaf menjadikannya sebagai pelengkap. Kedua, As Salaf mengatakan bahwa iman itu bisa naik dan bisa turun, sebalinya kebanyakan dari Ahlul Kalam menolak perkataan ini dengan mengatakan bahwa jika iman itu bisa turun maka hal ini adalah meruoakan syubhat". [26]

Oleh karena itu, As Salaf menyepakati bahwa iman adalah aqidah, pernyataan dan amalan. Maka barang siapa mengingkari aqidah terhadap adzab kubur, maka dia sama dengan mengingkari iman terhadap adzab kubur. Sebab aqidah yang berada dalam hati adalah merupakan dasar dari iman, yang hal ini telah disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Imam Al Baghawi (wafat 535 H) rahimahullah berkata:"Ash Shahabah dan At Tabi'in, dan mereka yang datang setelahnya dari kalangan para ulama ahlus sunnah bersepakat bahwa amal itu bagian dari iman, dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya iman itu terdiri dari pernyataan, amalan dan aqidah. Iman itu bisa naik dengan ketaatan dan bisa turun dengan ketidaktaatan". [27]

Setelah memahami hal ini, maka kesesatan dari mereka yang menyatakan bahwa mereka membenarkan adanya adzab kubur namun mengingkari aqidah akan adanya adzab kubur akan tersingkap dengan jelas. Sebab Salafuna shalih telah berpendapat bahwa salah satu dari iman terhadap adzab kubur, adalah beraqidah terhadapnya. Maka jika tidak beraqidah terhadap adzab kubur, maka tidak ada iman sama sekali.

Kesalahan Fatal
Setelah jelas bahwa As Salaf dan yang mengikutinya telah bersepakat bahwa adzab kubur itu akan benar-benar terjadi yang akan menimpa orang-orang kafir serta orang-orang yang berdosa dari kalangan muslimin, dan wajib untuk mengimani adzab kubur, dan menyatakan bahwa hal ini merupakan bagian dari aqidah Islam, dan tidak ada ikhtilaf dari mereka dalam hal ini.

Namun, pendiri dari sebuah partai modern, Hizbut Tahrir, telah berpendapat sebagaimana Al Mu'tazilah yang telah dijelaskan sebelumnya. Dia mengingkari aqidah terhadap adzab kubur, dan menjelaskan posisinya terhadap adzab kubur dengan mengatakan:"Sesungguhnya dalam khabarul ahad terdapat suatu yang menuntut suatu amalan, maka hal itu dapat diamalkan, seperti hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika salah seorang dari kalian akan mengakhiri tasyahud, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, yaitu adzab neraka, adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari fitnahnya Ad Dajjal", juga dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdo'a dalam setiap sholatnya "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, adan aku berlindung pada-Mu dari fitnah Dajjal, dan aku berlindung pada-Mu dari fitnah hidup dan mati. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari dosa-dosa dan terbelit hutang". Maka dua hadits ini adalah merupakan hadits ahad, dan didalamnya terdapat perintah untuk mengamalkannya, maksudnya adalah boleh mengamalkan dengan do'a ini pada tiap akhir tasyahud dan boleh membenarkan (tashdiq) terhadap apa-apa yang ada di dalam hadits itu. Namun diharamkan untuk berpegang pada hal ini dengan pasti, artinya tidak boleh menjadikannya sebagai bagian dari aqidah, selama hal itu diriwayatkan dari hadits ahad, yang hal itu adalah dhan. Namun, jika hal itu bersumber dari hadits mutawatir, maka wajib untuk menjadikannya sebagai bagian dari aqidah" [28]

Perkataan ini beberapa kelemahan
1. Pembedaan antara hadits ahad dan hadits mutawatir dalam permsalahan aqidah adalah merupakan bid'ahnya Al Qadariyah dan Al Mu'tazilah, sebagaimana telah dijelaskan.
2. Melakukan tashdiq terhadap adzab kubur, namun melarang orang-orang untuk beraqidah padanya, adalah merupakan sebuah kontradiksi di dalam hal istilah. Sebab sebagaiamana yang telah dijelaskan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar bahwa tashdiq itu adalah pembenaran akan suatu yang benar di dalam hati, dimana hal itu sama dengan aqidah dan yang demikian itu diharuskan padanya iman. Dan pembedaan antara tashdiq dengan aqidah adalah meruoakan pembicaraan bid'ah, yang menyelisihi jalannya Salafuna Shalih. Dan sayangnya, kebid'ahan telah dengan jelas dinyatakan oleh pemimpin Hizbut Tahrir di Inggris pada saat ini, dimana dia berkata:"Kami membenarkan pada hal itu, dan kau menganjurkan agar kalian semua agar tashdiq terhadap adzab kubur, aku anjurkan kalian untuk tashdiq terhadap datangnya al mahdi. Aku anjurkan kalian untuk tashdiq pada hal itu, namun siapa saja yang mengimaninya, maka dia telah berdosa." [29]
3. Bagaimana mungkin bisa membenarkan adanya adzab kubur namun melarang untuk beraqidah terhadapnya dalam hatinya, bukankah ini adalah suatu perbuatan nifaq? Padahal iman terhadap adzab kubur itu diwajibkan, sebagai dasar, pada aqidah dalam hati. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang berkata:"Kalian harus berhati-hati dalam membicarakan suatu hal, dimana para ulama tidak pernah mendahului membicarakan hal tersebut sebelumnya". [30]
4. Bersamaan denga hal ini, harus diingat bahwa "tidak diperbolehkan untuk membuat suatu tafsiran terhadap ayat ataupun as sunnah, yang para Salaf tidak pernah melakukannya atau para salaf tidak mengetahui akan hal tersebut. Sebab bila hal ini diakukan, maka akan timbul pernyataan bahwa As Salaf itu tidak mengetahui atau jahil terhadap kebenaran tentang hal ini dan telah keliru dalam meraihnya, sebaliknya akan muncul pernyataan bahwa lawan dari As Salaf (Al Khalaf) itu berada dalam keadaan terbimbing oleh kebenaran" [31]

Imam Al Auza'i (wafat 157 H) rahimahullah berkata:"Pegang eratlah atsar dari Salaf, walaupuj orang-orang akan meninggalkanmu. Berhati-hatilah terhadap pendapat-pendapat dari orang-orang, jangan memperdulikan betapa banyaknya mereka yang membagus-baguskan ucapan-ucapannya" [32]
Imam Abu Hanifah (wafat 150 H) rahimahullah berkata:"Berpegang teguhlah pada atsar dan jalannya As Salaf dan berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (dalam agama), sebab hal itu adalah bid'ah" [33]
Maka mengingkari aqidah terhadap adzab kubur, adalah merupakan suatu dosa dan hal ini terlarang, juga menyatakan bahwa adzab kubur itu tidak akan benar-benar terjadi, namun hal itu mungkin saja terjadi, maka hal ini adalah merupakan bentuk penyelisihan terhadap salafus shalih. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ini adalah pernyataannya Al Khawarij dan Al Mu'tazilah, dan tidak ragu lagi bahwa hal ini merupakan kesesatan dari jalan yang lurus.

Bila pada dhahirnya dia menyatakan tashdiq terhadap adzab kubur namun mengingkari aqidah terhadap hal ini, maka hal ini adalah sebuah bentuk kontradiksi dalam permasalahan istilah, sebab tashdiq, iman dan aqidah menurut pendapat dari As Salaf, semuanya itu menunjukkan kepastian dan definitif. Walaupun pada akhirnya kalangan modernis tidak mengakuinya.

Imam Ahmad (wafat 241 H) rahimahullah berkata:"Adzab kubur adalah merupakan hal yang pasti, dan tidak ada yang mengingkarinya, kecuali seseorang yang sesat dan menyesatkan". [34]

Imam An Nashiri (wafat 652 H) rahimahullah berkata dalam An Nurul Lami' no.110:"Kami beriman pada adzab kubur dan kebahagian yang ada didalamnya. Ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Maka wajib untuk beraqidah dalam hal ini.

Imam Muhyiddin An Nawawi (wafat 676 H) rahimahullah berkata dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bnu Hajjaj 5/83:"bab ini menunjukkan adanya keutamaan untuk memohon perlindungan dari empat hal ini, yang dilakukan antara tasyahud dan taslim, dan hal ini merupakan penegasan akan adanya adzab kubur dan ini adalah merupakan posisi dari Ahlul Haq, yang mereka itu menyelisihi Al Mu'tazilah".

Imam Al Qurthubi (wafat 571 H) rahimahullah berkata:"Mengimani adzab kubur dan ujian-ujian didalamnya adalah wajib, berdasarkan pada penjelasan dari orang yang paling benar (yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah". [35]

Perlu untuk diverifikasi (diteliti)
"Maka telitilah, semoga Allah memberikan am[unan atas kalian, perkataan seseorang yang kamu dengar, khususnya pada masamu. Janganlah bertindak tergesa-gesa, atau pun jangan masuk ke dalam segala hal sampai kalian bertanya dan melihat apakah para Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentangnya, ataupun para ulama telah membicarakannya. Maka jika kalian menemukan adanya riwayat dari mereka tentang ahl ini, maka berpeganglah padanya. Janganlah berlebih-lebihan dalam hal ini, dan janganlah memndahulukan apapun lebih dari hal ini, sebab bila berlaku demikian akan memasukkan pada api (neraka)." [36]
Imam Ibnu Sirrin (wafat 110 H) rahimahullah berkata:"ilmu adalah dien, maka berhati-hatilah kalian dalam mengambil ilmu dari siapa saja". [37]

Imam Qadhi Syarik (wafat 177 H) rahimahullah berkata:"Ibad Ibnul Awwam berkata:'Syarik Ibnu 'Abdullah pernah datang pada kami lebih dari 50 tahun yang lalu, dan kami katakan padanya, 'Wahai Ab 'Abdullah, ada sekelompok dari Al Mu'tazilah yang mengingkari hadits tentang Allah itu turun ke surga yang paling bawah dan bahwa orang-orang akan meihat Rabbnya'. Maka Syarik menukilkan sepuluh hadits tentang hal tersebut, kemudian berkata:'Bagi kita, maka kita telah mengambil dien kita ini dari anaknya Tabi'in, dari para shahbat. Lalu darimana mereka (Al Mu'tazilah) mengambil dien mereka? [38]

Maka setelah jelas penjelasan, insya Allah, dari apa-apa yang telah dijelaskan sebelumnya bagi siapa saja yang hatinya diberi penerangan dengan terangnya wahyu, dan siapa saja yang pada hatinya telah menemukan kebahagian dan terdapat perasaan senang pada riwayat-riwayat dari assalafus shalih. Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang membawa pemahaman yang pasti dan hal ini adalah obat untuk melawan kegelapan hizbiyyah. Hal ini akan menghasilkan kemurnian dan kualitas, walaupun jumlahnya hanya sedikit. Sesungguhnya hanyalah jumlah besar yang menyelisihi manhaj salaf, yang merupakan manhajnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah, tidaklah akan membawa sesuatu, kecuali tipu daya, perusakan dan penyesalan yang amat sangat.

Catatan kaki :
[1]. Seperti yang dinukilkan oleh Abul Hasan Al Asy'ari dalam Al Maqalatul Islamiyyin hal.430
[2]. Fiqhul Ushulil Khomsiyyah hal.733 dan Fadlul I'tizal hal.202 karya Qadhi Abdul Jabbar Al Mu'tazili. Apa yang mereka ingkari adalah dalam mengimani, atau beraqidah dalam apa-apa yang dibawakan oleh riwayat, bukan mengingkari akan eksistensi hadits tentang adzab kubur, seperti kesalahan yang sering dijelaskan.
[3]. Syaikh Mahmud Ath Thahan mengatakan dalam Taysir Musthalahil Hadits (hal.20-21) tentang pengertian mutawatir:"Pada dasarnya, apa-apa yang telah diriwayatkan oleh banyak rawi, maka hal ini tidak akan memungkinkan padanya bahwa mereka itu berdusta". Dan syarat-syarat dari mutawatir itu adalah :
1. Bahwa hadits ini harus diriwayatkan oleh jumlah rawi yang banyak, dan para ulama telah berbeda pendapat tentang batasan jumlah yang diminta.
2. Bahwa jumlah ini harus ditemukan pada setiap tingkatan sanadnya.
3. Bahwa tidak mungkin mereka bersama-sama berada diatas kedustaan.
(buka juga Nuzhatun Nadhr Fi Taudihi Nukhbatil Fikr (hal.57) oleh Al Hafidh Ibnu Hajar, dan Tadribur Rawi (2/177) oleh As Suyuthi.
[4]. Ibnu Hajar berkata dalam Nuzhatun Nadhr (hal.71) tentang pengertian hadits ahad:"Hadits yang tidak memenuhi syarat dari mutawatir". Dan khabarul ahad ini terdapat pada mayoritas hadits, baik itu dalam shahih Bukhari maupun Muslim, dan selainnya.
[5]. Dia adalah Abul Mudhaffar As Sam'ani, ulama ahli hadits dan ushul. Beliau wafat pada tahun 489 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.
[6]. Saunul Mantaq wal Kalam (hal.160) oleh As Suyuthi, menukil dari kitab Al Inshar Ahlil Hadits karya As Sam'ani.
[7]. Iqamatul Burhan (hal.32). oleh Syaikh Hamud At Tuwaijiri rahimahullah.
[8]. Al Adzkar (hal.32) oleh Imam An Nawawi.
[9] Riwayat al-Bukhaari (no. 1372)
[10] Riwayat al-Bukhari (no. 1378)
[11] Sahih : Riwayat at-Tabrani (3/78/2), dan disahihkan oleh al-Albaani dalam shohihnya as-Sahihah (no. 1377).
[12] Hasan: Riawayat at-Tirmidzi (no. 2424), dan Ibn Maajah (no. 4267), dan telah disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrijul-Misykat (no. 132).
[13] Riwayat Muslim (2/93), Abu Dawud (no. 983), dan lainnya dari Abu Hurairah (radiyallaahu ’anhu).
[14] Riwayat at-Tabrani dalam al-Kabir dari Umm Khaalid Bintu Khaalid Ibn Sa’id Ibnul-’As (radiyallaahu ’anhaa), disahihkan oleh al-Albani dalam as-Sahihah (no. 1444).
[15]. Syarh Ushulul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (no.312) oleh Al Lalika'i.
[16]. Al Manaqibusy Syafi'i 1/45.
[17]. Ushulus Sunnah (n0.3) oleh Imam Ahmad.
[18]. Risalatus Sunnah (hal 72) oleh Imam Ahmad.
[19]. Kitabus Sunnah (hal.900) dalam Sunan Abu Dawud.
[20]. Ta'wil Mukhtaliful Hadits (hal.1.
[21]. 'Aqidah Ath Thahwawiyah (no.79-80).
[22]. Al Ibanah 'An Ushulid Diyanah (hal.201).
[23]. Risalah ila Ahlits Tsaghr (hal.279) oleh Abul Hasan Al Asy'ari.
[24]. Asy Syari'ah (hal.358-364) oleh Al Ajurri.
[25]. Ashlus Sunnah wa I'tiqad Dien (no.14).
[26]. Syarhus Sunnah no.18.
[27]. I'tiqad A'imatul Hadits no.32.
[28]. Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ijtma'ul Juyush Al Islamiyyah (hal.152)
[29]. Ushulus Sunnah, nukilan ke 7.
[30]. Syarh Ushulil I'tiqad (6/1127) oleh Al Lalika'i.
[31]. Al I'tiqad (hal.107) oleh Al Baihaqi.
[32]. Diringkas dari Fathul Bari (1/60-61).
[33]. Syarhus Sunnah (1/38-39) oleh Imam Al Baghawi.
[34]. Ad Dusiyah (hal.6) oleh Taqiyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir.
[35]. Dari kaset ceramah berjudul "adzabul Qubr" (Masjid Regents Park, tanggal 2 mei 1992) oleh Umar Bakri Muhammad.
[36]. Dinukilkan oleh Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqi'in (4/266).
[37]. Ash Sharimul Munki (hal.427) oleh Al Hafidh Ibnu 'Abdul Hadi.
[38]. Diriwayatkan oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam Syarh Ashabul Hadits (hal.7).
[39]. Diriwayatkan oleh As Suyuthi dalam Sawnul Mantaq wal Kalam (hal.32).
[40]. Thabaqatul Hanabilah (1/174) Oleh Ibnu Abi Ya'la.
[41]. At Tadzkirah (hal.137) oleh Imam Al Qurthubi.
[42]. Syarhus Sunnah no.5.
[43]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah shahihnya (no.114), dan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya' (2/278).
[44]. Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam At Tauhid (1/97).


Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=105

Sabtu, 21 Januari 2012

Iman Kepada Para Rasul

Share

IMAN KEPADAPARA RASUL


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Ar-Rusul bentuk jamak dari kata "Rasul", yang berarti orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud "rasul" di sini adalah orang yang diberi wahyu syara' untuk disampaikan kepada umat.

Rasul yang pertama adalah nabiyullah Nuh Alaihimus Sallam, dan yang terakhir adalah nabiyullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Allah berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami elah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya …." [An Nisaa: 163]

Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu dalam hadits syafaat menceritakan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengatakan, nanti orang-orang akan datang kepada nabi Adam untuk meminta syafaat, tetapi Nabi Adam meminta maaf kepada mereka seraya berkata, "Datangilah Nuh, rasul pertama yang diutus Allah …." [Al Bukhari]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

"Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [Al Ahzab:40]

Setiap umat tidak pernah sunyi dari nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala yang membawa syariat khusus untuk kaumnya atau dengan membawa syariat sebelumnya yang diperbarui. Allah berfirman:

"Artinya : Dan sesunguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut ."[An Nahl:36]

"Artinya : Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suaut umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." [Fathir:24]

"Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan itab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi …." [Al Maidah : 44]

Para rasul adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak mempunyai sedikitpun keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai pimpinan para rasul dan yang paling tinggi pangkatnya di sisi Allah.

"Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak ditimpa kemudharatan, aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." [Al A'raaf:188]

"Artinya : Katakanlah: "Sesunggguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tidak seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung daripada-Nya." [Al Jin: 21-22]

Para rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit, mati, membutuhkan makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang nabi Ibrahim yang menjelaskan sifat RabbNya.

"Artinya : Dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)." [Asy -Syu'araa :79-81]

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda.

"Artinya : Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa seperti kalian. Karenanya, jika aku lupa, ingatkanlah."

Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahwa para rasul mempunyai ubudiyah (penghambaan) yang tertinggi kepada-Nya. Untuk memuji mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang nabi Nuh Alaihimus Sallam.

"Artinya : Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." [Al Israa :3].

Allah Ta'ala juga berfirman tentang nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

"Artinya : Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." [Al Furqan:1]


Allah juga berfirman tentang nabi Ibrahim, nabi Ishaq, dan Yaqub (alaihissalam).

"Artinya : Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Yaqub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menducikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." [Shaad :45-47]

Allah juga berfirman tentang nabi Isa bin Maryam Alaihimus Sallam

"Artinya : Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuadaan Allah) untuk Bani Israil." [Az Zukhruf : 59]

Iman kepada rasul mengandung empat unsur.

[1]. Mengimani bahwa riasalah mereka benar-benar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa mengingkari risalah mereka, walaupun hanya seorang, maka menurut pendapat seluruh ulama dia dikatakan kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." [Asy Syu'araa:105]

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka mendustakan semua rasul, padahal hanya seorang rasul saja yang ada ketika mereka mendustakannya. Oleh karena itu umat Nasrani yang mendustakan dan tidakmau mengikuti nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti nabi Isa Al Masih bin Maryam, karena nabi Isa sendiri pernah menyampaikan kabar gembira dengan akan datangnya nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Kata "memberi kabar gembira" ini mengandung makna bahwa Muhammad adalah seorang rasul mereka yang menyebabkan Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan memberi petunjuk kepada mereka jalan yan lurus.

[2]. Mengimani orang-orang yang sudah kita kenali nama-namanya, misalnya Muhammad,Ibrahim, Musa, Isa, dan Nuh (Alaihissalam). Kelima nabi rasul itu adalah rasul "Ulul Azmi". Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meyebut mereka dalam dua tempat dari Al Qir'an, yakni dalam surat Al Ahzab dan surat Asy Syura.

"Artinya : Dan (ingatlah) ketika Kami megambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putera Maryam " [Al Ahzab:7]

"Artinya : Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya …." [Asy Syuura : 13]

Terhadap para rasul yang tidak dikenal nama-namanya, juga wajib kita imani secara global.

Allah berfirman.

"Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebalum kamu, di antara mereaka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu." [Al Mu'min: 78]

[3]. Membenarkan berita-berita mereka yang benar.

[4].Mengamalkan syariat orang dari merka yang diutus kepada kita. Dia adalah nabi terakhir Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang diutus Allah kepada seluruh manusia. Allah berfirman.

"Artinya : Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian merka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu kebaratan terhadfap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [An Nisaa :65]

Buah Iman kepada Rasul-rasul

[1]. Mengetahui rahmat serta perhatian Allah kepada hamba-hamba-Nya sehingga mengutus para rasul untuk menunjuki mereka pada jalan Allah serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena memang akal manusia tidak bisa mengetahui hal itu dengan sendirinya.

[2]. Mensyukuri nikmat Allah yang amat besar ini.

[3]. Mencintai para rasul, mengagungkannya, serta memujinya karena mereka adalah para rasul Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan karena mereka hanya menyembah Allah, menyampaikan risalah-Nya, dan menasihati hamba-Nya.

Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mendustakan para rasul dengan menganggap bahwa para rasul Allah bukan manusia. Anggapan yang salah ini dijelaskan Allah dalam sebuah firma-Nya.

"Artinya : Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?" [Al Israa : 94]

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala mematahkan anggapan mereka yang keliru. Rasul Allah dari golongan manusia karena ia akan diutus kepada penduduk bumi yang juga manusia Seandainya penduduk bumi ini malaikat, pasti Allah akan menurunkanmalaikat dari langit sebagai para rasul.

Di dalam Suarat Ibrahim Allah menceritakan orang-oraang yang mendustakan para rasul.

"Artinya : Mereka (orang-orang yang mendustakan rasul) berkata' "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami. Karena itu, datangkanlah kepada kami bukti yang nyata." Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan ijin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." [Ibrahim : 10-11]


[Ditulis ulang dari Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman:40-46]

Jumat, 20 Januari 2012

Iman Kepada Para Malaikat

Share

IMAN KEPADAPARA MALAIKAT


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Malaikat adalah alam gaib, makhluk, dan hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan ketaatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"…Artinya : dan malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." [Al Anbiyaa: 19-20]

Malaikat berjumlah banyak, dan tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits Al Bukhari – Muslim terdapat hadits dari Anas Radhiyallahu 'Anhu tentang kisah mi'raj bahwa Allah telah memperlihatkan al Baitul Ma'mur di langit kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Di dalamnya terdapat 70.000 malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapapun yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.

Iman kepada malaikat mengandung empat unsur.

[1]. Mengimani wujud mereka.

[2]. Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti Jibril, dan juga terhadap nama-nama malaikat yang tidak kita kenal.

[3]. Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mempunyai 600 sayap yang menutup ufuk.

Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada malaikat Jibril tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda perjalanannya, dan tidak seorang sahabatpun yang mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Ia bertanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya. Setelah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjawab seluruh pertanyaannya, Jibril pergi. Setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada para sahabatnya, "Itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kalian."

Demikian halnya dengan para malaikat yang diutus kepada nabi Ibrahim dan Luth. Mereka menjelma bentuk menjadi lelaki.

[4]. Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti bacaan tasbih, dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala siang-malam tanpa merasa lelah.

Di antara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu misalnya.

[1]. Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rasul.

[2]. Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan tumbuh-tumbuhan.

[3]. Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di hari kiamat dan kebangkitan makhluk.

[4]. Malaikat maut yang diserahi tugas mencabut nyawa orang.

[5]. Malaikat yang diserahi tugas menjaga neraka.

[6]. Para malaikat yang diserahi janin dalam rahim. Ketika sudah mencapai empat bulan di dalam kandungan, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan menyuruh untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, derita, dan bahagianya.

[7]. Para malaikat yang diserahi menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua malaikat, yang satu pada sisi dari kanan dan yang satunya lagi pada sisi dari kiri.

[8]. Para malaikat yang diserahi tugas menanyai mayit. Bila mayit sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua malaikat yang bertanya kepadanya tentang Robbnya, agamanya, dan nabinya.

Buah Iman Kepada Malaikat.

[1]. Mengetahui keagungan Allah, kekuatan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan sang Pencipta.

[2]. Syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas perhatian-Nya terhadap manusia sehingga menugasi malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemashlahatannya yang lain.

[3]. Cinta kepada para malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ada orang yang tersesat mengingkari keberadaan malaikat. Mereka mengatakan bahwa malaikat ibarat "kekuatan kebaikan" yang tersimpan pada makhluk-makhluk. Ini berarti tidak mempercayai Kitabullah, sunnah Rasul-Nya, dan ijma' (konsensus) umat Islam. Allah berfirman.

"Artinya : Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." [Faathir:1]

"Artinya : Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar," (tentulah kamu akan merasa ngeri)." [Al Anfaal:50]

"…Artinya : Alangkah dasyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarlah nyawamu …" [Al An'am :93]

"…Artinya : Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh Robbmu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar," dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Benar." [Saba':23]

"…Artinya : Malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu)." Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [Ar Ra'd: 23-24]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda.

"Artinya : Apabila Allah mencintai seorang hamba-Nya, Ia memberi tahu Jibril bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai Fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu memberi tahu penghuni langit bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai Fulan dan menyuruh mereka juga untuk mencintainya, maka penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ia diterima di atas bumi." [Al Bukhari]

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda.

"Artinya : Di setiap hari Jum'at pada setiap pintu masjid para malaikat mencatat satu demi satu orang yang datang. Bila imam sudah duduk (di atas mimbar) mereka menutup buku-bukunya dan datang untuk mendengarkan dzikir (khutbah)."

Dari nash-nash ini tampak jelas bahwa para malaikat itu benar-benar ada, bukan kekuatan maknawi yang terdapat dalam diri manusia seperti yang disangka orang-orang sesat. Nash-nash tersebut telah disepakati umat Islam.


[Disalin dari kitab Syarhu Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim Zone, halaman:33-37]